Jas Baniang – Kasual

posted in: Motif Batik | 0

Interpretasi kasual dari Jas Baniang, yaitu busana tradisional Maluku yang dihadirkan kembali melalui pendekatan desain yang lebih santai dan kontemporer. Dirancang untuk meleburkan karakter tradisional dengan gaya berpakaian masa kini, versi ini menawarkan fleksibilitas dalam berbagai suasana, mulai dari pertemuan kreatif dan acara seni hingga kesempatan semi-formal.

Dengan karakter yang lebih rileks, Jas Baniang Kasual dapat dikenakan bersama kemeja maupun T-shirt, memberi ruang bagi pemakainya untuk mengekspresikan gaya personal tanpa kehilangan jejak identitas budaya Maluku.

Jas Baniang Kasual:

Sebuah pemikiran desain tentang keberlanjutan busana adat Maluku.

Dalam perkembangannya, Jas Baniang, salah satu bentuk busana adat Maluku, kerap dijumpai dengan konstruksi dan siluet yang menyerupai jas formal modern. Bagi saya, muncul pertanyaan: apakah busana adat harus selalu mengikuti bentuk jas formal agar tetap terlihat pantas dan berkelas?

Saya memandang pakaian adat masyarakat pada dasarnya memiliki karakter yang sederhana, dekat dengan keseharian, dan tumbuh dari kehidupan masyarakat itu sendiri. Berangkat dari pemikiran tersebut, saya mencoba menghadirkan interpretasi Jas Baniang dengan pendekatan desain yang lebih rileks, sederhana, dan tidak terlalu terikat pada kesan formal.

Upaya ini bukan semata-mata untuk menciptakan model baru, melainkan juga sebuah ikhtiar untuk mendekatkan kembali Jas Baniang kepada masyarakat. Saya ingin busana ini dapat dikenakan oleh lebih banyak orang, lintas generasi, mulai dari orang dewasa, anak muda, hingga anak-anak, tanpa harus selalu menunggu kesempatan atau acara resmi.

Dengan karakter yang lebih santai, Jas Baniang juga memiliki ruang untuk dipadupadankan dengan busana masa kini, seperti T-shirt, sehingga dapat hadir dalam berbagai suasana, termasuk pertemuan kreatif , acara seni dan kegiatan non formal lainnya.

Di balik pendekatan desain ini, ada harapan agar Jas Baniang tidak hanya dikenang sebagai pakaian untuk upacara atau acara formal, tetapi tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya yang dapat dikenakan, dialami, dan diwariskan dalam kehidupan sehari-hari. Kesederhanaan desain juga menjadi pertimbangan agar busana ini lebih terjangkau dan dapat dijangkau oleh berbagai kalangan.

Bagi saya, merawat tradisi tidak selalu berarti mempertahankannya dalam satu bentuk yang tetap. Ada kalanya tradisi perlu didekati kembali, dipahami, dan dihadirkan melalui cara yang lebih sesuai dengan kehidupan masa kini, tanpa kehilangan akar identitasnya.

Inilah salah satu cara Lawaida merawat tradisi: menjaga akar budaya, membuka ruang bagi pembaruan, dan mendekatkan warisan kepada generasi yang akan meneruskannya.